Nyctophile

Tanpa alasan apa suka itu berlabuh
Memberikan indah fatamorgana
Menempatkan frekuensi selaras dengan gema
Tanpa aturan dan benturan
Hanya senang dengan keberadaannya
Tiada yang bisa ditanya
Walau sampai ujung dunia mencari
Tiada jawaban beriring alasan mengenai rasa senang

Kiranya cukup tersampaikan
Akan senangnya kalbu
Atas kesunyiannya
Atas lembut bisikan binatang malam
Atas cakrawala dengan bintang
Atas ketenangan yang diberikan

Hanya si Nyctophile

Dalam Batin

“Terlelap akan lebih baik, dari berfikir tanpa alur ketenangan.”

Dengan tenangnya rembulan mengarungi malam tanpa ada keluhan. Dalam perjalananya tak mengharap sedikitpun balasan. Selain tasbih yang terus dilantunkan untuk memuji ilahi rabbi.

Oh, wahai nafsu dalam diri. Tampak semakin keras kau berkelana dalam hati. Teringin selalu mengusik tenangnya detak jantung ini.


06.April

Hampir satu pekan ‘April’ datang membawa banyak perdebatan yang tak kunjung berujung. Dialah musytarok Hati dan Akal.

Bukan sekedar Fighting menahan pukulan dengan banyak tangkisan. Namun, berat meruntuhkan ego yang kian memanas.

Hingga mata menengadah pada langit hitam. Ia tak pernah memperdulikan makhluk lain berceloteh tentangnya. Sampai guntur kerap berbunyi menyampaikan sepatah respon tersirat.

Heh,,, cukuplah diam. Percaya bahwa semua jawaban sudah ada di genggaman. Rintik sendu yang menemani setiap waktu. Biarlah mengalir menuruni kelopak lalu menetes dan berujung sampai dagu.

Teman perjuangan ialah lelah. Perbolehkan ia menyelimuti tubuh, tanpa sedikitpun mengukir kata menyerah dalam kalbu.

‘Ta Ammal Tudrik” ‘Hayatilah, pasti kau akan temukan’

Apriliant_19

Dear

Merintis kisah dengan banyak orang baru

Dear,

Katanya, dalam kehidupan tak boleh memelihara benci. Agar lebih halus lagi aku ganti dengan kata ‘tidak suka’ tak ada yang mengingkari mengapa manusia memiliki rasa tidak suka. Alasannya, karena kebanyakan kosa kata memiliki antonin. Heh…

Ada pepatah yang mengatakan, ‘saat kita ingin mendapatkan apa yang disukai, maka terlebih dahulu kita bersabar dengan apa yang kita benci.’

Sayangnya, aku bukan penyabar yang hakiki. Hanya orang yang berusaha diam dan menahan emosi, perihalnya karena disini bukan tempat untuk meluapkan.

Aku hanya tidak suka. Pada semua hal yang bersifat tidak pasti. Mulai dari keadaan, perkataan, perbuatan, hingga ketidakpastian seseorang. Semua kutahan dengan menghela napas panjang. Menengadahkan pandangan sembari berharap langit menunjukkan jalan.

Heh, kebanyakan perkataan orang berbau bawang kosong. Mereka tak perlu menebak jalan hidup orang. Menerka-nerka sampai lupa masih ada dirinya. Sudahlah…, Aku hanya penikmat aksara, dan tidak pernah menuntut mereka untuk percaya.

HAI (2)

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Hai…

Senja memang berujung kegelapan. Namun, kalau kita bisa bersyukur maka akan kita temukan bintang bertabur dengan sejalur.

Malam itu mungkin memuat banyak taruhan. 12 tahun duduk diatas bangku sekolahan terasa bagai bulu yang terbang sejenak karena kibasan angin secepat kilat. Rasanya, tak ada guna.

1 tahun terakhir adalah balutan awal luka yang menyakitkan. Tapi, lupakanlah sejenak mengenai rasa sakit itu. Mungkin akan uceritakan dibelakang.

 Bulan juli 2017, adalah bulan yang dinantikan. Berbagai persiapan dilakukan yang menyelipkan perpisahan. Tampak mata binar seorang wanita di depanku yang sedang menyulam nama pada seragam baruku.

*kemana aku ?

Aku terlalu sibuk memikirkan ditempat baru nanti. Hingga terlupa akan sisi lain yang masih dirahasiakan. Tak ada berat rasanya meninggalkan rumah. Hanya saja, dalam perjalanan mulai tertanam benih-benih rindu. ‘hey’ tenang, 3 tahun bukan waktu yang lama kok.

Ini adalah dunia baru. Setelah mencium tangan kasar ibuku, setelah ibu yang menata bajuku dalam loker seukuran 30×27 cm, dan setelah dia berpamitan.

Aku masih terdiam sesaat. Memandang ruangan seluas 2 kali kamar tidurku itu. Masih sedikit lengang. Hingga aku melihat seseorang yang duduk bersebelahan denganku. ‘hai’ aku mengawali sapa dengan nada malu. Kuperkenalkan dengan percaya diri. Menyebut namaku dengan bangga. Begitupun dia, menyambut balasan perkenalanku dengan antusias.

‘Namaku Aulia’ dengan senyumanya aku meyakini dia adalah orang yang baik. Jangan tanyakan soal tinggi badan. Sudah pasti aku ini bagai pion kecil yang menghadap Menteri. Hahaha….

‘Hai Aulia’

Hai

Hai,,,

Namaku April. Tak semua orang memanggilku April. Hanya panggilan khusus dari guru prodi SMK dulu. Haha… Tapi aku suka. 😄.

Mengenai ku,aku sendiri masih ragu. Hanya orang lain yang tahu, dan aku hanya mengerti melalui indera pendengaran ini. Tentang bagaimana mereka menggambarkan diriku.

Tak satupun hal khusus. Melainkan hanya satu jenis dari beberapa spesies. Ups,, bukan ahli biologi ya 🐿️.

Kehidupan bagiku adalah garis batas. Mengolah diri demi menghapus daftar tantangan.

Tak ada yang membahagiakan…, Selain diam dengan adanya sebuah alasan.

Mereka yang di rumah, adalah daftar alasan yang terdepan. Daftar selanjutnya adalah teman.

Ya, teman. Setiap orang yang aku kenal. Merekalah… Wadaha dari segala story kehidupan. Merekam tanpa persetujuan. Namun, bukan termasuk dalam kerusuhan. Justru, dari mereka sebagian besar story tersimpan.


Bukan Sekedar Kebetulan

The most cute a friend, kodomo😄🤗

Malam berputar dengan porosnya.

Akhir waktu menandakan untuk segera kembali menuju tempat masing-masing.

Langkah sempat terhenti sejenak bertukar aksara, menuang sekaligus mencari wadah cerita suka.

Mereka para pemilik senyuman sempurna. Mengajarkan bagaimana menyimpan suka.

Sepanjang perjalanan berasa punya banyak kebahagiaan. Menuruni anak tangga bersama genggaman dingin. celoteh memenuhi masa hingga buntu sebuah jalan tiba-tiba menyapa .

Senyuman terukir baik…

Tak kuasa mengatakan dengan segera. Kau janjikan selalu ada, bersama, dan datang.

*kau urus saja dirimu dek…

Walau tak ada setiap bagian cerita yang kau lewatkan dariku. Namun, masa kini membuatku dan engkau tumbuh.

Berkebalikan bahwa kau yang selalu pandai. Memahami tipuan wajah yang tersamarkan.


"Don't forget to like and comment"🤗

Malam Bermelodi

‘Aku menunggumu malam ini’

‘Baiklah,,, …’

Sapaan pengais aksara menunggu malam tiba. Mengundang seorang teman untuk sekadar bergumam.

‘hai,…’

‘bermain candaan untuk malam ini ?’

Mereka saling bertukar melodi
Menyusun irama membentuk pola aksara.

‘malam memuji penikmatnya’

Diam saling menatap, mencoba menemukan makna. Dengarkanlah,, melodi malam ini.

Tawari setangkup harapan yang terpikirkan. Cukup diam, tenang, dan rasakan.

‘hai…’

Tanpa Sapa-mu

Ruangan lengang sejenak,
Mata masih terbuka menunggu dengan setia.
Kau duduk di pojok ruangan ini,
Diam tempak membisu.
Sapaan serasa naik harga Minggu ini.
Apa ini hanya prasangka buruk-ku ?
Semoga saja….
Mungkin pasal kau menikmati duniamu sekarang.
Lama waktu telah menyembunyikan curahan.
Lama kuperhatikan…
Beribu kali rasa bersama dalam ruangan
Sambutan, sapa, entah kemana itu semua.
Maaf, jikalau aku masih menunggu.
Walau hanya sekedar tatapan dan sapaan sederhana.

The Time

3 years ago ➡️ lebih dari 3 tahun berlalu. Mata ini masih melihat banyak kebisingan yang membisingkan.

Telinga ini terlalu banyak mendengar celoteh yang meragukan. Apa yang dilihat dan didengar belum termaknai dengan tara pemahaman.

Detik berlalu, hati dan diri terkesan kan dengan polah gerak keduanya.

Sebuah sorak, senyuman, genggaman…

Sebuah peretasan baru yang mengubah sudut pandang. Inilah dunia yang sedang dibangun.

Semua berjalan dan terlampaui dengan banyak kesan.

Bahkan, teramat lama bertahan dengan semua kebiasaan dan perseteruan pemikiran.

Lambat waktu berjalan dengan sedikit kecepatan. Pernah tersudut dengan banyak pertanyaan.

Ngga cape belajar terus ?

Temanmu bukan hanya buku kan?

Ga pusing hafalan mulu ?

Betah banget sih, ga pengin pulang ?

➡️ Skip aja…

‘Tired’, ‘The word of adjective for human. Sifat manusia normal.

Hati dan diri, semua berdebat mengenai makna lelah. Terserah, biar mereka yang menyelesaikan.

The time is a friend. Whoever are my friend, but all have their own time.

Betah ga?

Jawabnya simple aja, ga ada yang lebih nyaman dari rumah dan keluarga. Sedetikpun tak pernah hilang akan bayangan kampung halaman.

How about the next 4 years ? “